Kedaulatan atas Sumber Daya Alam, atau Sumber Daya Alam yang Berdaulat?
Bagaimana kalau alam bukan sekadar sesuatu yang kita kuasai?
Cerita masyarakat, ritual, dan perlawanan di tengah perubahan.
Min #ASIK · 6 menit baca · Catatan editorial
Ilustrasi generatif, bukan foto narasumber atau dokumentasi kejadian.
Di lereng Merapi, sebutan “Mbah” menyimpan hubungan yang jauh melampaui gunung sebagai objek wisata. Embung, kawasan rawan bencana atau KRB, dan lava tour hadir dalam lanskap yang juga menyimpan ingatan serta praktik budaya warga.
Pada akhirnya, menjadi warga adalah soal merawat dan melawan!— Catatan Dupa dan Doa

Ritual dapat menjadi perlawanan yang bermartabat: merawat ruang budaya tanpa harus memakai kosakata kekuasaan. Human flourishing, dengan enam domain kesejahteraannya, mengingatkan bahwa kehidupan baik tidak cukup diukur hanya melalui pendapatan.

Fotografi beretika, sebagaimana dibicarakan YADEMA bersama National Geographic Indonesia, menempatkan persetujuan dan martabat subjek sebagai dasar. Gambar di halaman ini adalah ilustrasi generatif, bukan dokumentasi warga atau ritual tertentu.
Tulisan dikembangkan dari ringkasan editorial. Kutipan terjemahan/parafrasa diberi keterangan; pertanyaan dan refleksi bukan kesimpulan penelitian. Rujukan ditampilkan sesuai bahan yang tersedia, tanpa mengada-adakan tautan.
Nggak harus langsung punya jawaban. Kadang, pertanyaan yang baik justru awal dari percakapan.
Bagikan perspektifmu
Lingkungan & KekuasaanBagaimana kalau alam bukan sekadar sesuatu yang kita kuasai?
Lingkungan & KekuasaanMembaca ulang lima sila lewat air yang mengalir ke kehidupan kita.
Lingkungan & KekuasaanDi balik kecerdasan buatan, ada air, kerja, dan pilihan manusia.