Kembali eksplor
Sanitasi & KeadilanKisah ASIK

Toilet sebagai Keadilan Sosial: Kisah FIM Papua

Denah sederhana, kepemilikan warga, dan partisipasi yang sungguh-sungguh.

Min #ASIK · 7 menit baca · Catatan editorialIlustrasi editorial: Toilet sebagai Keadilan Sosial: Kisah FIM Papua

Ilustrasi generatif, bukan foto narasumber atau dokumentasi kejadian.

Angka yang tidak boleh berdiri sendiri

Akses sanitasi dasar di Papua Pegunungan tercatat 12,61%. Sanitasi dasar berbeda dengan sanitasi aman: fasilitas saja belum menjamin limbah dikelola dengan aman. Dalam catatan program, 70 dari 139 kampung di Kabupaten Jayapura masih menghadapi BABS. Konteks wilayah dan indikator tidak boleh dipertukarkan.

Bukan sekadar diajak hadir. Warga perlu punya kuasa untuk menentukan.— Refleksi Min #ASIK

Denah sanitasi kampung

Pada Papua Social Project ke-8 tahun 2024, denah anonim digunakan: lingkaran hijau untuk rumah yang punya toilet, merah untuk yang belum. Anonimitas penting agar pemetaan menjadi alat diskusi, bukan mempermalukan warga. Bapak-bapak memasang, mama-mama mengurus dapur; pembagian peran juga layak direfleksikan.

Terawat karena dimiliki bersama

Toilet dalam kisah program masih terawat hingga 2026. Kepemilikan warga adalah soal keputusan dan tanggung jawab bersama. Partisipasi penuh berbeda dari tokenisme: warga bukan pajangan untuk membuktikan sebuah proyek sudah “melibatkan masyarakat”.

Sumber & catatan bacaan

  • Statistik Lingkungan Hidup 2025
  • Catatan Papua Social Project ke-8 (2024), FIM Papua

Tulisan dikembangkan dari ringkasan editorial. Kutipan terjemahan/parafrasa diberi keterangan; pertanyaan dan refleksi bukan kesimpulan penelitian. Rujukan ditampilkan sesuai bahan yang tersedia, tanpa mengada-adakan tautan.

PERTANYAAN PEMANTIK

Siapa yang memutuskan lokasi, bentuk, dan perawatan toilet di kampung?

Nggak harus langsung punya jawaban. Kadang, pertanyaan yang baik justru awal dari percakapan.

Bagikan perspektifmu